Loading...
puripurikecil
Klik untuk melakukan pemesanan
Hubungi: 0361 738852

 
BALI: PULAU DEWATA

 

 
Bali, adalah pulau yang hijau dan subur, meliputi wilayah yang luasnya lebih dari 5.600 kilometer persegi – hampir sebesar wilayah Liguria di Italia. Terletak 8 derajat lintang selatan, di sebelah utara garis lintang selatan. Wilayahnya bergunung-gunung - gunung-gunung tinggi di tengah-tengahnya membentang di sepanjang pulau. Gunung “tertinggi”, yaitu Gunung Agung yang merupakan singgasana para Dewa, tingginya lebih dari 3.000 meter. Di kaki gunung dan di sepanjang jalan menuju laut, sawah yang melandai menyuguhkan pemandangan yang paling memukau dan tak terlupakan.
 

 
Pulau yang telah ada sejak zaman prasejarah dan merupakan singgasana raja-raja Majapahit, kaya akan budaya dan seni (tarian, teater, musik, pahatan, lukisan) dan memiliki beberapa monumen yang indah (khususnya candi) untuk dikunjungi, dan juga bentuk-bentuk kerajinan artistik yang menarik.
 
Bali dicirikan oleh kekayaan akan pemandangan alam yang menawan, tradisi dan adat-istiadat yang memanjakan mata para wisatawan setiap hari.
 

 

 
Salah satu ciri yang paling menarik dari “pulau dewata” ini, menurut saya, adalah masyarakatnya.
 
Upacara, pakaian adat, semuanya terkait dengan agama mereka yang mengkondisikan setiap momen dalam hari.
 
Di sini terdapat gagasan dualisme mengenai alam. Segala sesuatu merupakan keseimbangan: langit/bumi, matahari/bulan, siang/malam, dewa-dewa/setan. Setan harus diperangi, tetapi diketahui pula bahwa mereka tak dapat dihancurkan. Baik setan maupun dewa, harus dibuatkan persembahan. Yang pertama agar mereka tidak mengganggu sedangkan yang berikutnya agar mereka memberikan perlindungan.
 

 
Persembahan khusus menyerupai menara – yang disebut gebogan – yang dijunjung para wanita di atas kepala, diletakkan di paviliun selama odalan, yaitu upacara tahunan di pura. Semua persembahan ini untuk para Dewa.
 

 
Di Bali, Dewa ada di mana-mana. Mereka telah ada sejak awal, ada di mata air, di gunung, di pepohonan. Para dewa mengatur pulau ini dari atas gunung berapi tertinggi dan sesekali turun dan berada di antara manusia pada saat-saat tertentu di pura. Ada lebih dari 11.000 pura dan pemandangan di Bali didominasi oleh bangunan ini – kadang besar dan megah dan kadang kecil serta sederhana seperti pura yang terletak di ladang-ladang yang diperuntukkan bagi dewi padi atau dewi laut, dewi kematian, tokoh pendiri desa atau leluhur.
 
Hampir dipastikan Anda akan melihat berlangsungnya prosesi satu dan lainnya di pura-pura tersebut karena ada lebih dari 200 upacara setiap tahunnya. Para wanita, dalam busana klasik, yaitu kain dan kebaya, membawa bunga, buah-buahan, makanan di atas kepala untuk mendapat pemberkatan; para lelaki memainkan gamelan, seperangkat instrumen perkusi yang rumit. Di setiap pojok jalan, di depan sebuah rumah atau tempat usaha, anda akan melihat anyaman daun bambu kecil di tanah yang di atasnya berisi bunga, nasi dan buah-buahan. Ini adalah persembahan untuk setan.
 

 

 
Selama berabad-abad, ritual Bali kuno tumpang tindih dengan Hinduisme dan Budhisme.
 
Orang Bali meyakini pemujaan terhadap para leluhur dan pendiri desa yang dipercayai sebagai dewa dari masyarakat tersebut. Tidak ada hukum dan kewajiban kecuali atas perintah para dewa dan tidak ada kebahagiaan kecuali atas kehendak Tuhan.
 
Ngaben, sebuah upacara kremasi jenazah yang sangat menghanyutkan dan indah. Jika anda cukup beruntung untuk menyaksikan “pesta” ini – sebuah momen yang merupakan kebahagian luar biasa bagi orang Bali karena roh keluarga yang meninggal akhirnya terbebaskan – yang diselenggarakan untuk orang kaya atau bangsawan, maka sudah pasti anda menyaksikan upacara yang paling indah di dunia.
 

 
Bentuk menara yang dipikul di atas pundak beberapa lelaki membawa jenazah seorang raja ke tempat kremasi. Menara ini memiliki beberapa tingkat atap, yang jumlahnya beragam tergantung pada kasta orang yang meninggal, juga merupakan simbol dari jumlah nirwana yang harus dicapai oleh roh orang yang meninggal.
 

Foto tahun 1902
 
Pura merupakan lembaga paling penting di pulau Bali. Setiap desa harus memiliki sedikitnya tiga pura: “pura desa” di mana upacara diadakan; “pura puseh” terbuka untuk semua dewa “pura dalem” yang diperuntukkan bagi dewi kematian ‘Durga’, dan roh orang-orang yang meninggal dunia.
 
Pura terdiri dari dua atau tiga tempat dengan kuil dan paviliun, yang ditutup bangunan dan ciri “meru”, yaitu struktur yang menyerupai pagoda dengan 1 hingga 11 tingkat atap, tergantung seberapa penting dewa yang dipuja di pura tersebut.
 
Di dalam kompleks bangunan milik setiap keluarga terdapat beberapa pura kecil, sanggah atau merajang, yang diperuntukkan bagi para dewa dan para leluhur. Tidak ada gambar atau patung karena para dewa ini kasat mata dan tidak dapat digambarkan.
 
Meskipun ada banyak dewa tempat manusia mencari perlindungan, dalam kenyataannya mereka merupakan representasi yang berbeda dari trimurti, yaitu trinitas di India di mana Brahma merupakan Sang Pencipta, Wisnu Sang pelindung, dan Siwa sang pelebur yang mengembalikan semua bentuk materi ke keadaannya semula.
 
Trimurti meyakini satu tuhan tertinggi: Ida Sanghyang Widhi Wasa – satu-satunya yang diwakili oleh gambar –sesuai dengan Undang Undang Dasar Negara Indonesia yang mengizinkan kebebasan beragama, tetapi menuntut agama tersebut meyakini hanya satu tuhan.
 

Gambar tuhan tertinggi di padmasana, tahta batu. Swastika terbalik (berlawanan dengan arah jarum jam) mewakili roda kehidupan yang bergerak searah jarum jam.
 
 
BALI DALAM ANGKA
  • 8 derajat lintang selatan
  • Luas wilayah 5.532 km2 (Liguria 5.416)
  • 2.900.000 penduduk – 525 per km2. (350 Liguria)
  • 2 gunung berapi: Gunung Agung m.3.140; Gunung Batur m. 1.700
  • 95 persen penduduk beragama Hindu.

Iklim
  • tropis: hangat sepanjang tahun dengan variasi minimal; temperatur minimum 25/27 derajat, maksimum 30/31 derajat
  • Agustus (pada saat “musim dingin” di sini) 24/29 derajat
  • Hujan: Desember hingga Februari (hujan yang hangat!) ; hujan tidak berlangsung seharian. Juni hingga September tidak ada hujan, hanya sedikit berangin.
Mengunjungi Bali
  • Pada dasarnya Bali dapat dikunjungi kapan saja sepanjang tahun baik karena suhunya yang hangat dan hujan yang tidak terlalu deras. Selain itu, antara bulan November dan Februari (“musim panas” di Bali) beberapa upacara yang menarik diadakan, meskipun uparaca-upacara ini dapat juga disaksikan pada waktu-waktu lain.
Flora
  • Di mana-mana yang tampak adalah padi dan sawah. Kemudian pohon beringin, kamboja, kelapa dan enau, kopi, cokelat serta rempah-rempah.

 
Economia
  • Pertanian 40%, pariwisata 30%, 20% jasa; 70% ekspor kerajinan dan manufaktur.

Seorang pengerajin sedang menyelesaikan sebuah topeng. Topeng ini untuk wisatawan, sedangkan topeng untuk upacara disakralkan dan harus dilakukan berbagai ritual yang tepat secara berkala.
 

 
Daerah wisata
  • Bagian selatan pulau: Ubud, Nusa Dua, Sanur, Kuta/Legian/Seminyak/Basangkasa
  • Barat laut: Menjangan, Lovina
  • Timur laut: Candi Dasa, Amed, Tulamben
Kalender
Masyarakat di Bali menggunakan kalender umum, tetapi terdapat tiga macam kalender yang digunakan dalam agama Hindu yang dianut orang Bali:
  • ‘Pewkan’: 10 minggu dari 1 hingga 10 hari
  • ‘Wuku’: 30 minggu, di mana satu minggu terdiri dari 7 hari
  • ‘Saka’: lunar, bulan yang mengawali bulan baru (pesta wisatawan di pantai).
Kasta
Kasta berasal dari bahasa Portugis yang berarti “pembagian tugas”. Sistem kasta, yang dilarang oleh pemerintah, tetap terasa dalam interaksi antar masyarakat di Bali.
  • Kasta Brahamana: adalah kasta bagi pendeta tinggi dan keluarganya. Gelar Kebangsawanan: Ida Bagus
  • Kasta Satria atau ksatria: pangeran, pejuang, raja. Gelar Kebangsawanan: Anak Agung atau Dewa atau Cokorda
  • Kasta Waysia: pegawai administrasi negara, profesional. Gelar Kebangsawanan: Gusti
  • Kasta Sudra: 90% penduduk Bali memili kasta ini.
  • Tidak seperti di India, di Bali tidak ada yang “tidak tersentuh”
Dalam perwakilan simbolik, brahmana adalah mulut, satria adalah lengan, wesia adalah tungkai dan sudra adalah kaki.
 

Pedanda – Pendeta tinggi dari kasta Brahmana – bersembahyang di pura. Simbol pangkat keagamaannya terdapat di atas kepala.
 


 
SEJARAH

Jejak pemukiman pertama terjadi 300 tahun sebelum masehi.

Pahatan pada batu dan kerajinan dimulai pada abad VII setelah masehi.

Pada awal abad XI raja Airlangga dari Jawa, putra dari seorang putri Bali, memperluas wilayahnya ke pulau Bali. Setelah kematiannya, Bali menikmati dua abad kemerdekaannya.

Dari tahun 1300, setelah kamatian raja Bali yang paling penting yaitu Dalem Badulu (1343), dinasti kerajaan Majapahit Jawa mengembalikan Bali di bawah pengaruh Jawa.

Ketika Islam mulai menguasai Jawa, para pangeran Hindu pindah ke Bali (1478) dan seiring perjalanan tahun menjadi cikal bakal delapan kerajaan.

Bangsa Eropa pertama yang tiba di Bali pada 1597: Belanda. Raja Dewa Agung datang menemuni mereka dengan duduk di atas kereta yang ditarik lembu jantan putih, bertatahkan batu permata, dan diiringi oleh 200 istri serta 300 pejabat kerajaan. Ini merupakan masa keemasan kerajaan Gelgel.

 


Pendudukan Belanda tahun 1600.


 
Awal tahun 1700 Belanda memperkuat perdagangan, membangun pelabuhan-pelabuhan serta bermaksud menguasai pulau Bali, yang menyebabkan terjadinya konflik di antara para raja.

Pada 1841, dengan menggunakan sebuah kapal yang karam dan kemudian dijarah oleh penduduk lokal sebagai alasan, Belanda menguasai bagian utara pulau. Namun perlawanan keras dari penduduk Bali yang tak disangka-sangka membuat mereka terpaksa menyerah. Bagi penduduk Bali, kapal karam tersebut merupakan hadiah dari dewa laut, Batara Baruna, untuk mereka.

Pada 1846 Belanda tiba dengan 58 kapal dan 3000 pasukan. Raja Jelantik mendesak mereka kembali dari arah bukit.

1848: meskipun memiliki 75 meriam, Belanda kembali terdesak.

1849: operasi militer ketiga yang meliputi 100 meriam, 50 kapal perang kecil, 30 kapal laut besar, 8000 pasukan dan angkatan laut; meriam yang ditembakkan dari kapal-kapal tersebut ke pantai merupakan kekuatan yang tak terelakkan. Raja Karangasem yang tidak bersedia menyerah kepada Belanda melakukan upacara agama kuno yang disebut puputan (berarti ”akhir” – ritual bunuh diri massal): ia membunuh dirinya sendiri. Raja Buleleng dan pahlawan perlawanan atas Belanda, Gusti Ketut Jelantik, juga melakukan puputan bersama dengan 400 orang abdinya.
 


Pejuang dalam baju zirah - 1880
 
Waktu berlalu dan pada paruh kedua abad XIX, perdangangan semakin gencar dan Belanda membuat traktat dengan raja-raja setempat.
 

Raja Karangasem dengan kemenakan lelakinya, awal 1900
 
1906: Belanda menjatuhkan bom di Denpasar, ibu kota kabupaten Badung dengan menggunakan sebagai alasan penjarahan kapal karam Cina yang berada di bawah perlindungan Belanda. Raja pun memilih untuk melakukan puputan, bersama dengan seluruh keluarga dan abdinya setelah membakar istananya.
 

Peta istana kerajaan Denpasar, singgasana Raja Badung.
 

Reka gambar untuk koran Perancis pada mengenai saat itu.
Gambar ini menjadi bukti mengenai dampak tragedi Bali di Eropa.
 
Pangeran Tabanan yang dijebloskan ke penjara, melakukan bunuh diri dan istri-istrinya melakukan suttee dengan menceburkan diri mereka hidup-hidup ke dalam api kremasi.
 

Gambar yang melukiskan istri pertama raja yang menceburkan dirinya ke dalam api untuk mati bersama suaminya ketika jenazah suaminya dikremasi. Istri-istri lainnya mengikuti. Upacara agama ini disebut “suttee”.
 
Pangeran Gelgel, dikalahkan, mengorbankan dirinya sendiri: puputan lainnya.
 
1908: keluar dari puri (istana) Dewa Agung, Raja Klungkung, berjalan ke arah moncong senapan milik Belanda dengan seluruh keluarga dan abdinya. Kejadian ini adalah pembantaian dan penghancuran puri.
 

Istana Klungkung. Dihancurkan oleh meriam Belanda. Hanya sebuah paviliun yang tersisa.
 
Pada 1908, dengan dikuasainya seluruh pulau oleh Belanda, para keturunan raja-raja di Bali hanya mempertahankan peran sebagai perwakilan, tanpa memiliki kekuasaan yang efektif. Meski demikian, mereka tetap dianggap sebagai dewa-dewa di bumi, para pemimpin spiritual. Kerajaan yang tersisa hanyalah Kerajaan Karangasem dan Kerajaan Gianyar, yang menandatangani traktat dan menjadi protektorat Belanda.
 

Raja Gianyar dengan istrinya pada foto yang diambil tahun 1910.
 

Gusti Bagus Jelantik, Raja Karangasem dengan istri dan anak perempuannya tahun 1923

 
Pariwisata di Bali dimulai sekitar tahun 1920. Pada 1930 lebih dari 100 wisatawan mengunjungi pulau tersebut dalam sebulan.
 

 
Para mantan raja, yang perannya dikurangi menjadi hanya sebatas perwakilan lokal dan pemimpin agama di Bali, dalam sebuah pertemuan di kediaman gubernur Belanda untuk Bali dan Lombok di Singaraja, sekitar tahun 1930. Dari kiri ke kanan: 1.Cokorda Alit Ngurah, Badung. 2. Anak Agung Ngurah, Bangli. 3. Anak Agung Putu Jelantik, Buleleng. 4. Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, Karangasem. 5. Anak Agung Ngurah Agung, Gianyar. 6. Anak Agung Bagus Negara, Jemberana. 7. Dewa Agung Oka Geg, Klungkung. 8. I Gusti Ngurah Wayan, Tabanan.
 

  • 1942 – Perang Dunia III - Jepang menjajah pulau Bali dan memperlakukan penduduk lokal dengan kejam.
  • 15 Agustus 1945 Jepang menyerah pada Sekutu.
  • 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
  • Belanda berusaha merebut Bali kembali. Kelompok-kelompok pejuang yang setia dibentuk untuk memperkuat perlawanan terhadap pendudukan yang baru.
  • Pemimpin perlawanan tersebut adalah Ngurah Rai dan dengan pekik “merdeka atau mati” – ia diburu hingga ke pegunungan dan akhirnya ia dapat dikalahkan. Pembela tanah air itu melakukan puputan yang terakhir dalam sejarah Bali di desa Marga, di mana ia melakukan perlawanan hanya dengan 95 orang pasukan dalam suatu serangan bunuh diri, semata-mata karena ia tak mau menyerah. Untuk menghormati namanyalah lapangan udara di Bali diberi nama Ngurah Rai.
  • 1949 - Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

 


Muspa: adalah pemujaan dengan urutan yang tepat: kedua tangan diangkat ke langit dalam keadaan kosong, kemudian dengan mahkota bunga dan kemudian dengan susunan bunga. Semua pemujaan diikuti oleh pemberkatan dengan air dan penebaran biji-biji beras yang telah diberkati yang oleh penganutnya ditempelkan di dahi mereka.